Home / Komunitas / News

Kamis, 25 Desember 2025 - 08:36 WIB

JMSI Sultra Talk: Andri Darmawan Soroti Tantangan Pers di Era Digital

BARADUPA.COM – KENDARI.   Dewan Pakar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sulawesi Tenggara, Andri Darmawan, menekankan pentingnya peran pers sebagai kontrol sosial dan verifikator informasi di era digital yang semakin kacau saat ini.

Hal ini disampaikannya menanggapi tantangan dunia pers saat ini, termasuk maraknya penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dan media sosial yang seringkali menyebarkan informasi tanpa verifikasi.

Andri menyoroti bagaimana teknologi AI kini mulai menyusup ke produk jurnalistik dengan cara yang berbahaya.

“Saya pernah melihat opini di media online yang seakan ditulis praktisi hukum, padahal itu tulisan AI. Banyak pasal yang dikutip ternyata tidak ada di undang-undang. Ini penyesatan,” tegasnya dalam JMSI Talk di Kota Kendari, Jumat (19/12/2025).

Baca Juga  Firli Bahuri Raih Gelar Doktor Hukum, Lulus Summa Cumlaude dengan IPK 4,0

Sebagai praktisi hukum yang kini menjadi Dewan Pakar JMSI, Andri memahami kesulitan media lokal di Sulawesi Tenggara, terutama setelah media cetak mulai tergerus media online.

Tantangan terbesar saat ini adalah ketergantungan pendapatan media pada anggaran APBD.

“Ada fungsi informasi pembangunan, tapi di sisi lain pers harus menjadi kontrol sosial. Hubungan media dan pemerintah sering panas dingin karena posisi ini,” ujarnya.

Ia juga menyayangkan tren pejabat yang kini lebih memilih menggunakan media sosial pribadi daripada media massa resmi untuk menyampaikan informasi birokrasi, yang dianggapnya sebagai ancaman terhadap keberlangsungan perusahaan pers.

“Fungsi pers adalah memastikan kebijakan-kebijakan seperti di pemerintahan ini tersampaikan ke masyarakat secara akurat untuk menghindari penyesatan informasi atau hoaks yang sering beredar di platform non-pers.

Baca Juga  Pelantikan Pengurus PAN se-Sultra Siap Digelar, Zulkifli Hasan Dijadwalkan Hadir

Andri juga menyentuh aspek hukum terkait UU ITE dan putusan MK terbaru yang kini lebih melindungi kritik terhadap lembaga pemerintah.

Ia berharap hal ini meminimalisir kekhawatiran wartawan dalam menjalankan fungsi kontrol sosial.

“Sekarang ada fenomena No Viral No Justice. Orang merasa harus viral dulu baru direspon pemerintah. Di sinilah pers dibutuhkan untuk mengawal isu secara etis sesuai kode etik jurnalistik, bukan sekadar memicu keviralan tanpa konteks,” tambahnya.

Terakhir, ia mendukung adanya penguatan hak cipta atas karya jurnalistik agar tidak mudah “dicomot” oleh pihak lain tanpa kompensasi yang layak, demi kesejahteraan perusahaan media dan wartawan di daerah.

Share :

Baca Juga

Komunitas

AMPH Sultra Soroti Akuntabilitas Dana Desa Poaroha, Laporan Resmi Dilayangkan ke Ombudsman

News

Teguh Santosa: Tiga Soal Utama Papua, Percepatan Pembangunan, Pemberantasan Korupsi, dan Penanganan Kekerasan KKB

News

ARS LAW FIRM Kawal Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Anak di Konawe, Minta Penanganan Segera Dituntaskan

Komunitas

Lima Kegiatan Anggaran Desa Poaroha Disorot, Aliansi Desak Ombudsman Turun Lapangan

News

Forum PBB Bahas Sahara Maroko, Teguh Santosa Tekankan Hak atas Pembangunan

News

Komunikasi Dua Arah Jadi Strategi Bakom RI Dekatkan Pemerintah dengan Rakyat

News

Pelantikan Pengurus PAN se-Sultra Siap Digelar, Zulkifli Hasan Dijadwalkan Hadir

News

Firli Bahuri Raih Gelar Doktor Hukum, Lulus Summa Cumlaude dengan IPK 4,0