BARADUPA.COM – JAKARTA. Wali Kota Baubau, H. Yusran Fahim, S.E., masuk nominasi penerima Penghargaan “Golden Leader” Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI). Ia dinilai sebagai kepala daerah yang berhasil mendorong transformasi ekonomi berbasis maritim serta penguatan konektivitas wilayah kepulauan, khususnya di kawasan Indonesia timur.
Berdasarkan hasil verifikasi JMSI, arah pembangunan Kota Baubau di bawah kepemimpinan Yusran Fahim menunjukkan pergeseran paradigma strategis dari pembangunan darat-sentris menuju maritim-sentris, dengan laut diposisikan sebagai penghubung utama aktivitas ekonomi antarpulau.
JMSI menilai kebijakan Pemerintah Kota Baubau yang menempatkan sektor maritim sebagai fondasi pembangunan ekonomi daerah telah berdampak signifikan. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya volume pengiriman barang kargo domestik, bahkan telah menembus ekspor lintas negara (Baubau–Tiongkok).
Optimalisasi fungsi pelabuhan, penguatan jaringan transportasi laut, serta peran Baubau sebagai simpul distribusi barang dan jasa di Kepulauan Buton menjadi indikator utama penilaian.
“Pendekatan ini membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat kepulauan dan memperkuat konektivitas regional,” demikian catatan JMSI dalam hasil verifikasi nominasi.
Model pembangunan tersebut dinilai relevan dengan tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, sekaligus mencerminkan praktik pembangunan berbasis keunggulan wilayah.
Selain infrastruktur, JMSI juga mencatat integrasi kebijakan ekonomi melalui pengembangan UMKM berbasis potensi lokal, perdagangan jasa, serta pariwisata bahari dan budaya. Pendekatan ini dinilai mendorong struktur ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan, dengan dampak langsung pada peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Transformasi ekonomi yang dijalankan tidak hanya bersifat makro, tetapi juga menyentuh sektor riil yang menjadi sumber penghidupan masyarakat kepulauan.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian JMSI adalah relevansi historis kebijakan pembangunan Baubau. Secara historis, Baubau dikenal sebagai pusat pelayaran dan perdagangan Kesultanan Buton, salah satu kekuatan maritim di kawasan Nusantara timur.
“Transformasi ekonomi yang digagas saat ini dipandang sebagai upaya mengembalikan Baubau pada peran historisnya sebagai kota maritim,” catatan JMSI.
Nilai-nilai tata kelola maritim masa lalu yang menempatkan laut sebagai ruang pemersatu ekonomi dan sosial dinilai kembali tercermin dalam arah pembangunan modern yang dijalankan.
Dalam aspek kepemimpinan, JMSI menilai adanya konsistensi antara perencanaan jangka menengah, implementasi program, dan hasil pembangunan. Sinergi lintas sektor serta kolaborasi dengan pemerintah provinsi dan pusat juga menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat posisi Baubau dalam jaringan ekonomi regional Indonesia timur.
Pendekatan ini dinilai penting dalam konteks pembangunan wilayah kepulauan yang membutuhkan koordinasi lintas wilayah dan lintas kewenangan.
Berdasarkan hasil verifikasi data, dokumen kebijakan, serta dampak pembangunan, JMSI menilai H. Yusran Fahim, S.E., memenuhi kriteria sebagai pelopor transformasi ekonomi dan konektivitas maritim, sehingga layak masuk nominasi Penghargaan “Golden Leader.”
Kepemimpinan yang berorientasi pada hasil, berbasis konteks geografis, dan berakar pada sejarah tersebut dinilai relevan sebagai model pembangunan kota maritim di Indonesia.
Di era kepemimpinan Yusran Fahim, Kota Baubau tidak hanya mencatat prestasi di sektor maritim, tetapi juga mengalami lonjakan konektivitas udara yang berdampak positif terhadap aktivitas ekonomi lokal. Tren ini menjadi salah satu elemen pendukung yang diperhitungkan dalam nominasi Penghargaan “Golden Leader” JMSI.
Bandara Betoambari di Kota Baubau mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak masuknya maskapai Super Air Jet (SAJ) yang mengoperasikan pesawat berbadan besar Airbus A320 pada rute Makassar–Baubau. Kehadiran armada ini mendorong lonjakan jumlah penumpang selama tahun 2025.
Data terbaru menunjukkan jumlah penumpang tahunan mencapai lebih dari 107.000 orang pada 2025, meningkat sekitar 54,8 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sekitar 69.713 penumpang. Lonjakan ini didorong oleh penurunan harga tiket serta peningkatan kapasitas pesawat.
Menurut pengelola bandara, kehadiran Airbus A320 dan peningkatan frekuensi penerbangan telah memperluas akses udara tidak hanya bagi warga Baubau, tetapi juga masyarakat dari kabupaten sekitar.
Ketersediaan layanan yang lebih murah dan nyaman membuka peluang ekonomi baru melalui:
– Mobilitas penduduk yang lebih tinggi untuk aktivitas bisnis, pendidikan, dan jasa profesional.
– Akses pasar yang lebih cepat antara Baubau dan pusat ekonomi seperti Makassar, Jakarta, dan Surabaya.
– Dukungan terhadap sektor pariwisata, khususnya wisata bahari dan budaya.
– Peningkatan potensi investasi akibat keterhubungan wilayah yang lebih baik.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Baubau juga melakukan koordinasi strategis dengan maskapai dan grup penerbangan nasional untuk menambah frekuensi layanan serta membuka peluang rute baru, termasuk potensi layanan Batik Air. Langkah ini mencerminkan upaya aktif pemerintah daerah dalam memperkuat konektivitas udara sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi.
Pertumbuhan konektivitas udara di Kota Baubau menghasilkan efek pengganda (multiplier effect) yang nyata, antara lain:
– Meningkatnya aktivitas perdagangan barang dan jasa, khususnya komoditas yang membutuhkan mobilitas cepat.
– Kebangkitan sektor pariwisata melalui akses transportasi yang lebih efisien.
– UMKM dan jasa lokal memperoleh pasar yang lebih luas berkat konektivitas yang semakin intensif.
Perkembangan Bandara Betoambari sejalan dengan paradigma pembangunan yang diusung Wali Kota Yusran Fahim, yakni menjadikan Kota Baubau tidak hanya sebagai hub maritim, tetapi juga simpul konektivitas yang mengintegrasikan transportasi laut dan udara sebagai penggerak ekonomi.
Pertumbuhan arus penumpang dan ekspansi layanan maskapai menjadi bukti bahwa kebijakan yang dijalankan tidak hanya relevan secara historis dan maritim, tetapi juga adaptif terhadap tantangan pembangunan modern yang membutuhkan konektivitas multimoda. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kuat mengapa kepemimpinan Yusran Fahim dinilai layak masuk nominasi Penghargaan “Golden Leader” JMSI.















